Subulussalam | teropongbarat.co. Di ruang perawatan kelas tiga RSUD Kota Subulussalam, tubuh Andiko Naibaho tampak menyusut. Dua bulan lalu berat badannya mencapai 74 kilogram. Kini tinggal sekitar 40 kilogram. Wajahnya pucat, matanya cekung, suaranya pelan ketika menceritakan rasa kecewa yang terus menekan pikirannya.
“Sudah dua bulan lebih saya dirawat, tapi bukannya sembuh, malah makin parah,” katanya, didampingi sang istri, boru Bancin, Kamis (7/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Andiko adalah pasien BPJS yang menjalani operasi usus oleh dr. Arief, salah satu dokter spesialis RSUD Subulussalam. Ia mengaku sejak awal merasa pelayanan medis terhadap dirinya dilakukan asal-asalan. Obat yang diberikan, katanya, sering tak menimbulkan reaksi positif. Rasa nyeri yang semula ringan kini menjadi semakin berat. “Saya curiga ada yang salah dalam penanganan. Jangan-jangan malpraktek,” ujarnya lirih.
Pihak RSUD membantah tudingan itu. Salah seorang pejabat rumah sakit mengatakan semua prosedur medis sudah dijalankan sesuai standar operasional (SOP). “Kami bekerja sesuai aturan. Tidak ada unsur kelalaian. Jika pasien membutuhkan perawatan lebih lanjut, kami siap merujuk ke rumah sakit yang lebih lengkap fasilitasnya,” ujarnya singkat.
Namun di luar penjelasan formal itu, cerita Andiko mencerminkan keresahan yang sering terdengar di ruang-ruang rumah sakit daerah: pelayanan pasien BPJS yang terasa setengah hati. Imej ini tumbuh kuat di masyarakat—bahwa pasien umum sering mendapat perhatian lebih, sementara pasien BPJS seperti Andiko kerap menjadi “nomor dua”.
Seorang perawat senior yang enggan disebut namanya mengakui ada beban psikologis di kalangan tenaga medis. “Kami ini manusia juga. Kadang fasilitas kurang, tekanan tinggi, tapi pasien menuntut maksimal. Akhirnya, keikhlasan itu bisa luntur,” ujarnya.
Kisah Andiko membuka kembali perdebatan lama tentang rasa tulus dalam profesi medis. Sumpah dokter dan perawat seharusnya menjamin bahwa setiap pasien—siapa pun dia, dari kelas mana pun—mendapat perlakuan sama. Tapi di lapangan, realitas kerap lebih keras.
Di RSUD Subulussalam, tubuh Andiko masih terbaring lemah. Namun yang lebih menyakitkan baginya mungkin bukan hanya luka operasi yang belum sembuh, melainkan rasa kecewa pada sistem yang semestinya menyembuhkan.
Laporan: Anton Tin | Subulussalam

















































