TULANG BAWANG BARAT // Yeropongbarat.com Pekerjaan pemeliharaan jalan melalui mekanisme swakelola oleh UPTD Wilayah VI Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Lampung di ruas jalan Penumangan menuju Pagar Dewa menuai kritik tajam. Proyek yang seharusnya menjadi solusi cepat perbaikan infrastruktur tersebut justru dituding sarat akan praktik korupsi dan manipulasi anggaran.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kondisi pekerjaan fisik jalan terlihat sangat minim kualitas. Tumpukan material yang tidak merata dan proses pengerjaan yang terkesan asal-asalan memicu dugaan adanya pengurangan volume material maupun ketidaksesuaian dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Kepala UPTD Dituding “Tutup Mata”
Dugaan penyelewengan ini semakin diperparah dengan sikap Kepala UPTD Wilayah VI yang terkesan mengelak saat dikonfirmasi. Pejabat terkait dinilai seolah-olah tidak memahami kontribusi atau detail pelaksanaan teknis di lapangan, sebuah sikap yang dianggap publik sebagai upaya cuci tangan atau menutupi bobroknya pengelolaan anggaran swakelola tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sangat tidak masuk akal jika seorang Kepala UPTD tidak paham bagaimana kontribusi dan progres di lapangan. Ini uang rakyat, bukan uang pribadi yang bisa dikelola tanpa transparansi,” ujar salah satu warga yang melintas di lokasi.
Mekanisme Swakelola yang Manipulatif.
Mekanisme swakelola yang seharusnya melibatkan tenaga kerja lokal secara transparan kini justru dicurigai hanya menjadi kedok untuk mempermudah oknum dinas dalam mengeruk keuntungan pribadi. Kurangnya pengawasan dari instansi terkait membuat proyek ini berjalan tanpa standar mutu yang jelas.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat mendesak pihak Aparat Penegak Hukum (APH), baik Kejaksaan maupun Kepolisian, untuk segera turun tangan mengaudit proyek swakelola di ruas Penumangan–Pagar Dewa ini guna mencegah kerugian negara yang lebih besar.
” Di sisi lain datang tanggapan dari ibu rumah tangga Martina 49 tahun Warga Penumangan Lama. yang keluhan Ibu Martina mengeluhkan pekerjaan tersebut malah mengunakan matrial bekas,” Ujar nya.
“Martina menambahakan pekerjaan jalan ini kan sering di lintasi Kendaraan berat seperti mobil angkutan hasil bumi seperti singkong maupun sawit yang sering kali melintas.
” Bagaimana mungkin jalan ini bisa bertahan lama kalau pekerjaannya menggunakan material bekas yang digunakan oleh pekerja proyek tersebut. Ini yang di depan mata apalagi yang tidak terlihat ataupun jauh dari pemukiman penduduk besar kemungkinan pekerjaan jauh lebih parah daripada ini dengan rasa penuh kecewa seorang ibu rumah tangga menceritakan di hadapan awak media. Minggu /19 /April/2026.
Redaksi//
Teropongbarat.com
Investigasi
















































